JAKARTA, IndexIndonesia.com –Rapat Koordinasi Kowani, menjelang peringatan satu abad (100 tahun) usia organisasinya, Kongres Wanita Indonesia (Kowani) menggelar pertemuan penting untuk memulihkan soliditas internal. Dewan Pimpinan (DP) Kowani bersama puluhan pimpinan organisasi anggotanya mengadakan Rapat Koordinasi dengan tema “Optimisme Perempuan Menuju 100 Tahun Kowani dan Indonesia Emas 2045” di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Pertemuan ini tidak hanya membahas visi jangka panjang, namun lebih urgent, membahas jalan keluar dari konflik internal yang telah berlangsung sekitar 12 bulan pasca terpilihnya kepengurusan DP Kowani periode sebelumnya. Agenda utamanya adalah memfinalisasi rencana penyelenggaraan Kongres Luar Biasa (KLB) untuk perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) sebagai solusi konstitusional.
KLB: Jalan Legal Akhiri Konflik
Dalam sambutannya, Ketua Kowani Dr. dr. Hj. Ulla Nuchrawaty, M.M., dengan tegas menyatakan bahwa KLB adalah satu-satunya jalan yang legal dan tepat untuk menyelesaikan kebuntuan. “Bangsa ini memiliki suatu organisasi tertua dan terbesar, namanya Kowani… Negara terancam kalau kita diam. Kalau tidak mengakhiri ini, pilih yang terbaik dari yang terbaik,” ujarnya.
Ulla mengingatkan, Kowani yang berdiri sejak 1928 atas inisiasi tiga organisasi pendiri—Aisyiyah, Wanita Katolik RI (WKRI), dan Wanita Taman Siswa (WTS)—telah melahirkan banyak tokoh berpengaruh. Konflik yang berlarut, menurutnya, dapat mempermalukan bangsa, mengingat Kowani adalah wakil Indonesia di International Council of Women (ICW). “Kongres Luar Biasa adalah tugas memperbaiki, menyempurnakan AD/ART organisasi,” tegasnya.
Konflik internal memanas setelah 19 anggota DP Kowani menyampaikan mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan Ketua Umum sebelumnya, Nannie Hadi Tjahjanto, S.H., pada November 2025.
Dukungan dari Organisasi Pendiri dan Anggota
Dukungan untuk penyelenggaraan KLB mengemuka kuat dalam rapat. Sri Yoeliati Sugiri dari Wanita Taman Siswa (WTS), yang mewakili unsur pendiri, menegaskan komitmen untuk mempertahankan Kowani sebagai aset negara. “Kowani harus dipertahankan sebagai aset negara, 97 tahun tidak pernah terjadi segala sesuatu, tahun ini kita menghadapi suatu ancaman, satu ujian. Mudah-mudahan semua itu akan selesai, pasti,” katanya.
Ia juga meluruskan sejarah dengan menegaskan bahwa Kowani memang didirikan oleh tiga organisasi tersebut, menepis upaya-upaya pemutarbalikan fakta sejarah. Pernyataan ini mendapat respons positif dari para peserta rapat, yang menekankan pentingnya persatuan dan kembalinya Kowani pada khittah perjuangannya.
Tidak Hanya Politik Organisasi: Edukasi dan Isu Perempuan
Di sela agenda utama, rapat juga diisi dengan kegiatan yang menyentuh langsung misi pemberdayaan perempuan, yaitu edukasi dan preview film “Suamiku, Lukaku” yang diikuti dengan diskusi mendalam tentang isu Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Hal ini menunjukkan bahwa di tengah dinamika internal, Kowani tetap berusaha menjalankan perannya sebagai garda depan advokasi isu-isu perempuan.
Menuju Titik Terang di Tahun 2026
Rencana KLB yang didukung mayoritas organisasi anggota ini diharapkan dapat segera terlaksana. Dengan dukungan 118 organisasi anggota di bawahnya, KLB diharapkan menjadi momentum rekonsiliasi dan revitalisasi bagi Kowani untuk menyongsong usia 100 tahun dengan lebih solid, serta berkontribusi optimal menuju visi Indonesia Emas 2045.
Tantangan ke depan adalah memastikan KLB berjalan lancar, demokratis, dan menghasilkan kepengurusan serta AD/ART yang dapat mempersatukan seluruh elemen, mengembalikan Kowani pada marwahnya sebagai federasi organisasi perempuan yang disegani di tingkat nasional maupun internasional.
Red/Hr
