ACEH TIMUR, Indexindonesia.com – Lebih dari sebulan pasca banjir bandang November 2025, warga di Kabupaten Aceh Timur masih berjibaku dengan pembersihan endapan lumpur tebal yang membutuhkan biaya besar. Pemerintah setempat mengakui besarnya tantangan pemulihan ini.
Alat Berat Jadi Pilihan Pahit, Biaya Sendiri Ditanggung Warga
Banjir bandang yang melanda Aceh Timur akhir November lalu tidak hanya merusak rumah, tetapi juga menyisakan endapan lumpur setinggi pinggang hingga atap di sebagian wilayah. Untuk membersihkannya, banyak warga terpaksa menyewa alat berat dengan biaya yang tidak sedikit.
“Sewa beko (ekskavator) itu satu jam Rp600 ribu. Kami terpaksa sewa selama dua jam, habis Rp1,2 juta hanya untuk mengeruk lumpur dari halaman dan sekitar rumah. Tidak mungkin kami bersihkan pakai cangkul karena volumenya terlalu banyak,” kisah Marzuki (38), warga Desa Blang Gleum, Kecamatan Julok, Aceh Timur, saat ditemui di lokasi, Sabtu (3/1/2025).
Biaya sewa alat berat yang besar itu terpaksa ditanggung sendiri oleh keluarga Marzuki. “Uangnya kami dapat dari bantuan sanak famili yang ada di luar. Prioritas sekarang membersihkan rumah agar bisa ditempati lagi,” tambahnya.
Kondisi Lingkungan Masih Memprihatinkan
Video yang diunggah warga menunjukkan kondisi Blang Gleum sebulan pasca banjir. Jalanan kampung masih tertutup lumpur basah dan licin, dengan genangan air sisa banjir di beberapa titik. Pengerukan dengan alat berat baru sedikit mengubah kondisi yang awalnya lumpur setinggi lutut.
Pemerintah Akui Skala Kerusakan Luas dan Butuh Waktu
Menanggapi kondisi ini, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh Timur, Ir. H. Fahrul Azmi, M.Si., membenarkan bahwa pembersihan lumpur di permukiman warga menjadi tantangan berat. “Kami fokuskan alat berat milik pemerintah untuk membuka akses jalan umum dan saluran drainase utama terlebih dahulu. Untuk pembersihan di halaman rumah warga, kami akui kapasitas alat kami terbatas dan membutuhkan waktu,” jelasnya saat dihubungi.
Data dari Pemkab Aceh Timur per awal Januari 2025 menunjukkan skala bencana yang masif: sebanyak 5.171 unit rumah rusak berat, 5.294 unit rusak sedang, dan 1.426 unit rusak ringan. Saat ini, sekitar 8.000 warga dari 22 kecamatan masih mengungsi di posko-posko.
“Pembangunan huntara (hunian sementara) tahap awal untuk 1.000 unit segera kami mulai. Namun, pemulihan total, termasuk pembersihan lingkungan permukiman, membutuhkan proses dan partisipasi semua pihak,” pungkas Fahrul Azmi.
Baca juga;
Rex































![Penyerahan Simbolis Kacamata AI]](/wp-content/uploads/2025/12/IMG-20251207-WA0031-400x225.jpg)


